Selasa, 21 Oktober 2014

Patung Batu Bata Ini Tampak Begitu Riil


Brad Spencer adalah salah satu dari sedikit sekali seniman di dunia yang menciptakan patung dari batu bata. Spencer telah menjadi pematung sejak 1984. Selama kuliah seni lukis, dia mengambil patung sebagai keterampilan khusus.

Media yang digunakan Spencer adalah tanah liat, plester, semen, dan perunggu. Pada 1989, dia mulai bereksperimen dengan patung relief dalam media batu bata yang memungkinkan dia menuangkan pengalamannya dalam lukisan, gambar, dan patung. 




Spencer pertama akan mengukir batu bata dari tanah liat di studionya di Reidsville. Berikutnya, dia membongkar patung itu, menumpuk bata demi bata dan mengukirnya. Dia kemudian akan merekonstruksi patung dengan mortar di lokasi instalasi. Dia juga suka melibatkan publik ketika merekonstruksi karyanya, bahkan memungkinkan penonton untuk mengarahkan satu atau dua batu bata.



Menurut Spencer, media bata memiliki semua karakteristik yang sama dan biaya pemeliharaannya rendah. Konstruksi batu bata menurutnya juga unik, terlihat bagus dengan lansekap dan menghibur orang.





Patung batu bata juga menambah intrik dan menarik orang lain untuk mencari tahu teknik yang diciptakan. Spencer sudah mengerjakan patung batu bata di ruang publik berbagai negara, seperti Charlotte, Greenville, SC, dan Asheville.

Sumber : Amusing Planet

Shirakawa & Gakoyama, Desa Pertanian Bersejarah di Jepang


Shirakawa dan Gakoyama adalah dua desa pertanian di Jepang yang terletak di Prefektur Gifu dan Toyama. Kedua desa ini terkenal dengan keberadaan gassho zukuri, rumah-rumah tradisional yang banyak di antaranya sudah berusia di atas 250 tahun. 

Gassho zukuri dibuat dengan beratapkan jerami yang sudutnya sangat miring dan menyerupai dua tangan yang membentuk posisi berdoa ala Jepang. Shirakawa dan Gakoyama juga dua tempat paling bersalju di dunia dan rumah ini diciptakan karena mengikuti iklim ini. Desainnya sangat kuat dengan kombinasi unik dari sifat jerami yang memungkinkan rumah untuk menahan dan melepaskan berat hujan salju sewaktu musim dingin.







Gaya arsitektur tradisional rumah ini bertahan selama ratusan tahun. Lokasi desa ini terpencil di hulu Sungai Shogawa, sebuah wilayah yang hadir sejak klan Taira abad ke-12 yang kemudian disapu bersih oleh klan Minamoto (Genji) dalam sebuah pertempuran 1185. Budaya masyarakat di desa ini tetap praktis dan tak berubah meski sudah terjadi modernisasi di Jepang. Rumah tertua di desa ini berusia 400 tahun. Di halaman rumah biasanya ditanami sawah pada musim panas dan semi.






Gassho zukuri terbesar biasanya dibuat dengan hingga 3-4 lantai. Lantai pertama menjadi tempat tinggal. Banyak petani yang beternak ulat sutra untuk persiapan musim dingin. Kebutuhan ruang tertutup besar untuk tempat tidur ulat sutra dan penyimpanan daun murbei merupakan faktor penting dalam pengembangan rumah gassho zukuri ini dan ditempatkan di lantai atas.







Desa Shirakawa dan Gakoyama mendapat perhatian seluruh dunia dan ditetapkan sebagai Warisan Budaya UNESCO pada Desember 1995. 

Sumber : Amusing Planet

Senin, 20 Oktober 2014

Zalipie, Desa yang Penuh dengan Rumah Lukis


Zalipie adalah sebuah desa di Polandia Tenggara, sekitar 68 kilometer ditimur ibukota Krakow. Desa ini dikenal karena rumah-rumah penduduknya yang dilukis dengan cat warna-warni. 

Tradisi mendekorasi rumah dengan lukisan eksterior dan interior ini sudah dikenal sejak akhir abad ke-19 ketika tungku kuno penduduk digantikan dengan cerobong asap. Tungku di sini awalnya hanya memiliki sebuah lubang di langit-langit untuk membuang asap. Sayangnya, lubang kecil itu tidak memadai, sehingga menyebabkan dinding rumah menghitam penuh jelaga.








Nah, dalam rangka untuk menutupi dinding penuh jelaga itu, ibu-ibu rumah tangga mulai melukis dinding-dinding yang menghitam itu dengan kapur bewarna. Mereka menggambar bunga. Mereka kemudian mengembangkan gambar itu untuk mengecat jendela dan bagian luar rumah, sehingga menjadi satu kebiasaan pada akhirnya.

Awalnya, ornamen ini didominasi geometris dengan titik-titik, kurva, lingkaran, zig-zag, dan garis bergelombang. Sebagai perekat, mereka menggunakan susu, gula, dan putih telur. Kuas lukisnya menggunakan rambut kuda, kulit, atau rambut manusia.

Seperti kebanyakan desa-desa kecil lainnya, penampilan Zalipie yang menarik ini membuat banyak pihak menerbitkan artikel tentang desa ini di sebuah majalah etnografi lokal pada 1905.




Tradisi melukis rumah ini akhirnya digelar setiap tahun, tepatnya pekan pertama setelah Hari Raya Corpus Christi. Lukisan-lukisan rumah akhirnya diperlombakan sejak 1948 dan terjadi beberapa tahun hingga 1965. Selain Zalipie, sejumlah desa di sekitarnya juga memiliki budaya sama, seperti Kuzie, Niwka dan Klyz. 


Pelukis rumah terbaik dari Zalipie dikenal bernama Felicja Curylowa (1904-1974). Sejak kematiannya, rumah tiga kamar miliknya berubah menjadi museum.






Sumber : Amusing Planet

Taksi di Bangkok Hadir dengan Berbagai Warna


Berbeda dengan seluruh dunia dimana taksi biasanya bewarna kuning atau hitam, taksi di Bangkok, Thailand hadir dalam berbagai warna. Ada taksi merah muda, oranye, ungu, hijau, kuning, hingga taksi bewarna kombinasi. 

Jika taksi di negara lain tak mempermasalahkan warna, warna-warna taksi di Bangkok justru menjadi kode. Jika warnanya tunggal, bearti taksi itu milik perusahaan, seperti warha hijau, merah, oranye, kuning, biru, merah muda, ungu, dan violet. Taksi dengan kombinasi warna merupakan taksi pribadi, seperti kuning-hijau, merah-biru, atau kuning-oranye.




Jumlah taksi di Bangkok amat berlimpah dan Anda bisa memilih warna yang Anda suka. Namun, taksi kombinasi kuning-hijau lebih disukai karena itu merupakan milik pribadi.




Bukan hanya taksi yang hadir dalam warna-warni di Bangkok, melainkan juga bus bewarna yang menunjukkan tarif, rute, kepemilikan, hingga AC atau non-AC. Jika Anda ingin menikmati bus murah, maka naiklah bus dengan kombinasi merah dan krim. Ini dioperasikan oleh Bangkok Mass Transit Authority (BMTA). Namun, dengan adanya polusi udara dan panas di Bangkok, bepergian dengan bus ini akan menjadi pengalaman yang melelahkan, terutama disiang hari. Warna bus putih-biru juga non-AC namun tarifnya sedikit lebih mahal. Bus AC itu bewarna biru dan krim. 



Obsesi Bangkok untuk warna bahkan melampaui taksi dan bus. Orang Thailand gemar mengenakan warna baju berbeda-beda untuk setiap hari dalam sepekan. Pada Minggu, mereka memakai merah, Senin kuning, Selasa merah muda, Rabu hijau (siang hari) dan abu-abu (malam hari), Kamis oranye, Jumat biru, dan Sabtu ungu. Warna-warna ini dianggap membawa keberuntungan.

Secara politik, sangat umum melihat banyak orang Thailand mengenakan pakaian kuning pada Senin dan biru pada Jumat untuk menghormati raja danratu mereka yang masing-masing lahir pada Senin dan Jumat.

Sumber : Amusing Planet