Kapan terakhir kalinya Anda mendapatkan secangkir kopi yang di atas busanya terdapat lukisan? Nah, seni melukis di atas busa kopi itu disebut latte art.
Penikmat kopi biasanya lebih menuntut cita rasa kopi yang lezat, namun sebagiannya juga menyukai pola atau desain tertentu di permukaan latte. Alhasil, kopi yang disajikan pun tampak cantik dan semakin menggugah selera.
@baristart
@baristamaniac
@dreadfullvegan
Bahan dasar minuman yang bisa dirangkai menjadi latte art ini adalah cappuccino atau coffee latte. Umumnya ada dua teknik latte art, yaitu free pour dan etching.
@barista_dritan_alsela
@cabellcoffee
@timothysweetbarista
Free pour dilakukan dengan menuang secara langsung susu yang telah disteam di atas espresso. Bentuknya sangat variatif, mulai dari hati, bunga tulip, hingga rossetta. Etching dilakukan dengan menuang susu diatas espresso dan selanjutnya dibentuk menggunakan alat bantu untuk menggambar berbagai karakter, mulai dari wajah seseorang, beruang, angsa, hingga bunga.
@garyperong
@barista.fan
@barista_dash
Econers, Anda bisa melihat contoh latte art lainnya di bawah ini dan langsung berkenalan dengan kreatornya melalui Instagram.
Econers, siapa pun bisa menjadi seorang pelukis hebat, tak terkecuali seekor gajah. Gajah selama ini dikenal termasuk binatang yang memiliki kecerdasan. Di Provinsi Ayutthaya, Thailand, seekor gajah bernama Noppakhao telah menghasilkan banyak karya seni dengan melukis. Bahkan, hasil karyanya berharga hingga 700 dolar AS.
Foto : Elephant Painting
Noppakhao mulai melukis sejak empat tahun yang lalu sebagai bagian dari The Asian Elephant Art & Conversation Project (AEACP). Menurut sang pawang, gajah berusia 11 tahun ini mempertunjukkan bakat dan rasa kreativitas yang tinggi lewat goresan cat di karyanya. Gajah yang juga dikenal dengan nama Peter ini juga unggul dalam melukis dengan komposisi yang kompleks, seperti beberapa desain flora yang memiliki kualitas unik.
Menurut situs resminya, sebagian besar karya Noppakhao dihasilkan dari kertas yang ramah lingkungan dan merupakan hasil limbah olahan dari kotoran gajah. Kotoran tersebut diproses menjadi bahan jenis bubur kertas. Hasil dari kertas yang bertekstur ini kemudian digunakan untuk menciptakan berbagai jenis produk baru, seperti kertas, pigura foto, kotak perhiasan, bahkan topi.
Keuntungan dari hasil penjualan karya seni gajah ini nantinya digunakan untuk proyek konservasi dan pengasuh pelatihan. �Kami berusaha memberikan gajah-gajah apa yang kita bisa lakukan, kebahagiaan, kesehatan. Uang yang terkumpul oleh AEACP digunakan untuk menyediakan makanan yang lebih baik, peningkatan penampungan, dan perawatan yang tepat bagi gajah,� kata sumber AEACP.
Pada masa lalu, aksi gajah melukis telah menimbulkan tuduhan bahwa binatang diperlakukan kejam dalam upaya untuk melatih mereka. Namun, AEACP mengatakan tidak menoleransi penyalahgunaan gajah baik selama melukis maupun dalam interaksi sehari-hari. Mari intip aksi gajah pintar ini dalam video berikut: